Dikisahkan ada dua anak
yang bersahabat. Mereka ibarat surat dan perangko yang tidak dapat dipisahkan
oleh apapun termasuk ruang dan waktu. Dimana ada Caca di situ pasti ada Risma.
Begitu pula sebaliknya.
Saat mereka sedang
berjalan-jalan, Risma ingin memberi tahu pada Caca bahwa ia akan pindah ke kota
Lampung karena harus merawat neneknya yang sakit-sakitan. Caca tampak sedih
mendengarnya. Caca tak ingin sahabatnya Risma pergi begitu saja. Namun, Risma
berjanji akan selalu mengabari keadaannya di Lampung. Dengan ini Caca tidak
perlu sedih lagi.
Beberapa hari kemudian,
Risma datang ke rumah Caca. Ia membawa dua buah liontin yang kembar. Liontin
itu satu untuk Caca dan satu untuk dirinya. Liontin itu untuk kenang-kenangan
saat dia pindah. Caca pun langsung memeluk Risma dan menangis haru.
Seiring berjalannya waktu,
Caca dan Risma saling berkiriman surat. Walaupun jarak memisahkan mereka,
persahabatan mereka tidak pernah putus. Hingga pada suatu saat, Caca menemukan
sebuah kejanggalan pada surat yang dikirim Risma terakhir kali. Pada surat itu,
Caca tidak menemukan adanya perangko. Lalu ia membolak-balik surat itu, dan
ternyata benar amplop surat itu tidak berperangko.
Tiba-tiba terdengar suara
ketuk pintu di kamar Caca. Dan Caca pun langsung membuka pintu kamarnya.
Ternyata itu ibunya. Caca kaget melihat ibunya berurai air mata. Sambil memeluk
Caca, ibunya berkata bahwa Risma telah tiada. Ternyata ibunya tadi mendapat
kabar bahwa Risma telah meninggal dua bulan yang lalu. Saat ia dalam perjalanan
ke lampung. Dalam hati, Caca bertanya-tanya
“Siapa yang mengirim surat
tersebut???”
BERSAMBUNG
Karya:
- Nadia Indi Azama 8D
- Eliana Mardiyaningtyas 8E
- Eliana Mardiyaningtyas 8E
Komentar
Posting Komentar