Langsung ke konten utama

“Mensiasati” Penilaian Bimbingan TIK Sesuai Kurikulum 2013

 

Mengajar Praktik…tanpa menilai? Mungkin ini salah satu hal yang dikeluhkan oleh guru-guru Bimbingan Teknologi Informasi dan Komunikasi ( B TIK.). Apa penyebabnya? Salah satu penyebabnya adalah perubahan kurikulum.

Bagaimana sejarahnya? Pada kurikulum KTSP, sejak TIK dimasukkan dalam struktur kurikulum pada tahun 2006, sebagai mata pelajaran termuda, dengan mendapatkan alokasi waktu 2 x 40 menit per minggu. Sejak saat itu TIK menjadi primadona bagi anak-anak, dengan keceriaan anak-anak dalam setiap kali praktik di laboratorium komputer.

Namun adanya kurikulum baru yaitu Kurikulum 2013 telah terjadi perubahan yang signifikan, dimana mata pelajaran TIK dihapus dari struktur kurikulum. Penghapusan Mata Pelajaran TIK tersebut memicu timbulnya reaksi dari guru-guru TIK, sehingga munculah sebuah organisasi yang tercipta terdiri dari guru-guru TIK seluruh Indonesia. Dideklarasikan tanggal 23 Januari 2014 di UPI Bandung, dan terus berkembang menjadi organisasi guru professional di bidang TIK. Organisasi tersebut bernama Asosiasi Guru TIK dan KKPI Nasional (FGTIKNAS/Federasi Guru TIK dan KKPI Nasional) yang sudah memiliki SK Menkumham RI No. AHU-0000469.AH.01.07.Tahun2015 dengan Akta Notaris No.219, Notaris : Deni Subarno, SH, M.Kn. Ketua FGTIKNAS Firman Oktora dan beberapa pengurus yang terpilih, mengadakan beberapa kali audience dengan DPR Pusat bahkan dengan Menteri Pendidikan saat itu Bapak M.Nuh, yang bertujuan untuk memperjuangkan nasib guru-guru TIK seluruh Indonesia. Sehingga pada akhirnya mata Pelajaran TIK bisa dimasukan kembali ke kurikulum 2013 dengan nama Bimbingan TIK. Dengan dikeluarkannya “Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2014 tentang Peran Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Guru Keterampilan Komputer dan Pengelolaan  Informasi  dalam  Implementasi  Kurikulum2013. Dan diperbarui dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2014 Tentang Peran Guru Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dan Guru Ketrampilan Komputer Dan Pengelolaan Informasi Dalam Implementasi Kurikulum 2013”.

Perbedaan TIK dan B TIK !. Terdapat beberapa perbedaan yang mencolok antara Mapel TIK dan Bimbingan TIK. 1 diantaranya pada mata pelajaran TIK ada silabus dari kementrian pendidikan, sedangkan di Bimbingan TIK belum ada silabus. 2 Tidak adanya program penilaian di Bimbingan TIK.

Bagaimana cara mensiasati program penilaian di B TIK yang sesuai dengan Kurikulum 2013? Menurut Permendikbud 104 tahun 2014 tentang Penilaian Hasil Belajar Pasal 4 Ayat 6 Prinsip khusus untuk Penilaian Autentik meliputi butir b.bersifat lintas muatan atau mata pelajaran. Hal ini menjadi celah yang bisa digunakan oleh para guru B TIK untuk melakukan program penilaian. Caranya dengan mengadakan kerjasama antara guru Bimbingan TIK dan guru mapel lainnya guna memberikan penilaian terhadap hasil karya anak, dimana materi yang diajarkan juga terdapat di mata pelajaran lain. Hal ini bisa diadopsi dari pembelajaran yang telah dilakukan di tingkat Sekolah Dasar, yang disebut dengan Pembelajaran Terpadu.

Langkah-langkah dalam melakukan penilaian pembelajaran terpadu :

1.      Menentukan tema / materi yang sama dari 2 mata pelajaran / lebih

2.      Membuat rubrik penilaian

3.      Melakukan penilaian terhadap karya siswa

4.    Menyerahkan / mengkomunikasikan / mendiskusikan hasil penilaian dengan guru mapel lain.


         Pembelajaran terpadu sebagai suatu konsep merupakan pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi anak. Pembelajaran terpadu diyakini sebagai pendekatan yang berorientasi pada praktek pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak. Pembelajaran terpadu secara efektif akan membantu menciptakan kesempatan yang luas bagi siswa untuk melihat dan membangun konsep-konsep yang saling berkaitan. Dengan demikian, pembelajaran terpadu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami masalah yang kompleks yang ada di lingkungan sekitarnya dengan pandangan yang utuh. Dengan pembelajaran terpadu ini siswa diharapkan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi, mengumpulkan, menilai, dan menggunakan  informasi yang ada di sekitarnya secara bermakna.

Salah satu contoh penerapan Pembelajaran Terpadu  yang dapat dilakukan  pada kegiatan pembelajaran B TIK Kelas IX semester 1 materi membuat naskah dan film pendek dapat dikaitkan dengan Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas IX Semester 1 pada Kompetensi Dasar 4.6 dan Kompetensi Dasar 4.12

Di Bimbingan TIK peserta didik dibimbing untuk membuat sebuah naskah dan membuat film pendek. Naskah film pendek yang di buat di dalamnya memuat : menentukan tema, menentukan judul, menentukan setting tempat dan waktu, menentukan sinopsis, menentukan tokoh dan karakteristiknya, serta membuat percakapan (prolog dan dialog) . Hasil akhirnya berupa naskah film pendek yang di printout. Pembuatan naskah film pendek ini sesuai dengan Kompetensi Dasar 4.6 Mengungkapkan pengalaman dan gagasan dalam bentuk cerita pendek dengan memperhatikan struktur dan kebahasaan, dengan bentuk pembelajarannya Menyusun kerangka cerita pendek berdasarkan pengalaman/gagasan dan Kompetensi Dasar 4.12 Mengungkapkan rasa simpati, empati, kepedulian, dan perasaan dalam bentuk cerita inspiratif dengan memperhatikan struktur cerita dan aspek kebahasaan, dengan bentuk pembelajarannya : 1. Membuat rancangan cerita inspiratif berisi ungkapan simpati, empati, kepedulian, dan perasaan, 2.  Menulis cerita inspiratif berdasarkan rancangan dengan memperhatikan struktur dan kebahasaan,

Sedangkan dalam pembuatan film pendek, peserta didik di bimbing untuk melakukan 2 kegiatan, yaitu proses syuting dan  proses  mengedit film. Kegiatan ini sesuai dengan Kompetensi Dasar 4.12 3. Memublikasikan hasil karya cerita inspiratif  dalam bentuk video film pendek. Dengan pembelajaran terpadu ini diharapkan agar  tujuan pelajaran dapat tercapai. Yaitu memberikan program penilaian terhadap karya siswa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Tak Berperangko

Dikisahkan ada dua anak yang bersahabat. Mereka ibarat surat dan perangko yang tidak dapat dipisahkan oleh apapun termasuk ruang dan waktu. Dimana ada Caca di situ pasti ada Risma. Begitu pula sebaliknya. Saat mereka sedang berjalan-jalan, Risma ingin memberi tahu pada Caca bahwa ia akan pindah ke kota Lampung karena harus merawat neneknya yang sakit-sakitan. Caca tampak sedih mendengarnya. Caca tak ingin sahabatnya Risma pergi begitu saja. Namun, Risma berjanji akan selalu mengabari keadaannya di Lampung. Dengan ini Caca tidak perlu sedih lagi. Beberapa hari kemudian, Risma datang ke rumah Caca. Ia membawa dua buah liontin yang kembar. Liontin itu satu untuk Caca dan satu untuk dirinya. Liontin itu untuk kenang-kenangan saat dia pindah. Caca pun langsung memeluk Risma dan menangis haru. Seiring berjalannya waktu, Caca dan Risma saling berkiriman surat. Walaupun jarak memisahkan mereka, persahabatan mereka tidak pernah putus. Hingga pada suatu saat, Caca menemukan sebuah k...

Aplikasi Alternatif di Pembelajaran Jarak Jauh

Hampir 2 tahun pelaksanan PJJ dikarenakan wabah Covid 19, PJJ pertama dilaksanakan di semester 2 tahun pelajaran 2019/2020, dan PJJ kedua dilaksanakan mulai awal semester 1 tahun pelajaran 2020/2021. Dan PJJ ke-3 sudah dimulai dari awal tahun pelajaran 2021/2022 ini. Dalam PJJ pertama banyak permasalahan yang dihadapi siswa, guru maupun orang tua. Salah satu hal yang dihadapi bersama adalah tersedianya sarana prasarana pendukung, seperti Handphone yang sangat dibutuhkan dalam PJJ. Sehingga ada beberapa hal yang penulis siapkan dalam menghadapi PJJ ke-2, seperti membuat beberapa rekaman video simulasi pembelajaran, membuat materi dalam bentuk powerpoint, membuat kelas maya baik melalui WAgroup maupun GoogleClasRoom dan membuat survey kesiapan PJJ. Persiapan awal adalah pembuatan wagrup per kelas, dari 13 kelas yang penulis ampu, 9 rombel untuk kelas 7 dan 4 rombel untuk kelas 8, semua anak di kelas tersebut memiliki fasilitas Handphone yang dapat digunakan dalam pelaksanaan PJJ, hal...